Pengaruh IT Terhadap Budaya

Idham,1IA19 ,53410377 kalimalang

3.1 Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ) dalam Pengembangan Kebudayaan

Menurut Turner (1984), “Kebudayaan dan Media massa memiliki hubungan simbiotik di mana keduanya saling tergantung dalam sebuah kolaborasi yang sangat kuat”. Kepopuleran suatu budaya sangat bergantung pada seberapa jauh media massa gencar mengkampanyekannya. Begitu pula media massa hidup dengan cara mengekspos budaya-budaya yang sedang dan akan populer.

Dari sekian banyak budaya yang mempengaruhi dunia Teknologi Informatika yang paling banyak ialah budaya kejahatan diantaranya kejahatan plagiatisme .Sudah banyak korban yang menjadi kejahatan ini dan sangat merugikan sekali .Di negara-negara maju, komputer jadi way of life dari masyarakat. Sebagai way of life, mereka menggunakan komputer untuk mengakses berbagai informasi dari berbagai belahan dunia lewat sistem jaringan internet. Informasi menjadi bagian penting dari proses pematangan mentalitas, emosionalitas, dan kesadaran diri. Tetapi, di Indonesia, komputer masih langka sehingga lebih dari separuh rakyat Indonesia terisolasi dari informasi.

Kelangkaan tersebut disebabkan oleh sumber daya manusia pemerintahan yang belum maksimal mengelola informasi sebagai aset bagi proses perubahan sosial, budaya, ekonomi, politik, budaya, dan pertahanan-keamanan menuju masyarakat beradab (civil society). Persoalannya adalah bagaimana masyarakat Indonesia bisa membangun civil society dalam kondisi minimnya sarana sumber informasi.

Komputer menjadi sarana vital globalisasi. Ia membantu kita mengakses berbagai informasi strategis seputar tatanan masyarakat global. Fungsinya yang strategis bisa menjadi konstruktif sekaligus destruktif bagi masyarakat. David J. Bolter mendeskripsikan situasi ini (Turing’s Man : Western Culture in the Computer Age, 1984), seperti dikutip Dennis C. Smolarski (1988), ”Komputer telah menentukan bagaimana kita bertindak dan mendefinisikan diri sendiri di tengah sesama dan lingkungan hidup”. Dengan kata lain, komputer mampu me-”manusia”-kan diri sendiri.

Smolarski (1878), dalam refleksinya, The Spirituality of Computers (Spirituality Today, Winter 1988, Vol. 40 No. 4, pp. 292 -307) mendeskripsikan posisi komputer sejajar dengan fungsi kendaraan, pesawat terbang, telpon, radio, dan televisi. Yaitu, mereka membuat hidup kita kian lebih praktis sekaligus lebih kompleks. Teknologi komunikasi informasi yang baru ini (komputer) berkapasitas untuk mempertinggi penghargaan kita terhadap ciptaan yang sungguh-sungguh mengagumkan. Dengan bantuan alat-alat tadi, kita dapat bekerja lebih efisien dan efektif. Tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan dan bisnis, tetapi juga dalam berbagai upaya kegiatan kemanusiaan seperti peace building, keadilan, toleransi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Kebutuhan individu dan masyarakat akan teknologi sangat tinggi mengingat aspek yang dipengaruhi oleh teknologi cenderung mempermudah pekerjaan, tidak menutup kemungkinan bahwa semakin meningkatnya permintaan masyarakat akan kebutuhuan mereka terdahap dunia berita memerlukan sebuah penyajian informasi yang lebih dinasmis dan atraktif. Keterlibatan TIK dalam pengembangan segala aspek kehidupan sangat signifikan, dalam konteks penyajian informasi yang atraktif TIK sangat berperan penting untuk mewujudkan sebuah informasi yang terintegrasi dan memiliki tampilan bagus sehingga kehausan konsumen akan informasi  bisa terpenuhi.

Untuk memenuhi kriteria tersebut diatas, perlu adanya pemberian bekal terhadap masyarakat agar terciptanya sosok yang ahli dalam bidang TIK. Dalam konteks ini negara mengambil kebijakan-kebijakan tentang peningkatan sumberdaya manusia supaya masyarakat akan datang bukan hanya pengkonsumsi informasi diharapkan juga mampu menjadi penghasil informasi.

Untuk menghasilkan masyarakat yang paham akan dunia TIK dalam konteks penyaji informasi perlu adanya pengelolaan terorganisir mulai dari kalangan atas, menengah dan kalangan bawah. Pengajaran TIK tidak cukup jika pembelajarannya hanya pada ruang lingkup sekolah saja atau dalam pendidikan formal, lingkungan dan masyarakat seharusnya harus ikut andil dalam pengembangan pengetahuan terhadap bidang TIK supaya tidak tumpang tindih terhadap pendidikan yang diberikan oleh sekolah.

Begitu pula halnya dengan pengembangan budaya bangsa yang saat ini sangat memerlukan kertelibatan TIK didalamnya, lemahnya daya pikat masyarakat terletak pada kurangnya penyajian atau publikasi informasi tentang perkembangan budaya dan pelestarian budaya itu sendiri.

Supaya kekayan budaya yang dimiliki bangsa ini tidak hanya sebagai harta simpanan yang sesekali mudah saja direbut oleh bangsa lain perlu adanya sebuah publikasi menyeluruh kepada dunia tentang kekayan yang kita miliki sehingga ciri khas kenegaraan kita terbentuk dengan keanekaragaman budayanya. Pemerintah harus mendukung aksi seperti ini dengan cara mematenkan setiap kebudayaan yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s